May 03 2013

Materi Pengembangan Kurikulum kelompok 4

MAKALAH

PENGEMBANGAN KURIKULUM

Dosen : Dr. Hj. Ihsana EL Khuluqo, M.Pd

 

MACAM-MACAM MODEL KONSEP KURIKULUM

Disusun Oleh :

Koeshariatmo          NIM : 1108036201

Rudi Rohdian          NIM : 1108036204

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

SEKOLAH PASCA SARJANA

APRIL 2013

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.             Latar Belakang

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan konsep-konsep yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada konsep yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.

Untuk itu, dalam lembaga pendidikan yang namanya konsep sangatlah penting karena konsepi pelaksanaan kurikulum memberi petunjuk bagaimana kurikulum itu dapat dilaksanakan di sekolah. Dengan demikian kurikulum ini masih tahap rencana, ide, atau harapan, yang harus diwujudkan di suatu lembaga pendidikan, sehingga kurikulum tersebut mampu mengantarkan anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, terdapat beberapa konsep Kurikulum untuk mencapai tujuan Pendidikan.

  1. 2.             Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengambil beberapa pembahasan yang akan dikemukakan pada makalah ini, antara lain :

  1. Bagaimana pengertian konsepsi kurikulum?
  2. Bagaimana latar belakang munculnya berbagai macam konsepsi kurikulum?
  3. Apa saja ragam konsepsi kurikulum?

 

 

 

3.         Tujuan  Penulisan

 

Berdasarkan rumusan di atas, pembuatan makalah ini mempunyai tujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui model konsep kurikulum dalam pengembangan  pendidikan
  2. Untuk mengetahui ciri model kurikulum dalam pengembangan  pendidikan
  3. Untuk mengetahui komponen-komponen kurikulum dalam pengembangan  pendidikan

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.             Pengertian Konsepsi Kurikulum

Sebelum kita membahas apa itu konsepsi kurikulum, alangkah baiknya kita membahas pengertian dari konsep itu sensiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline menyatakan bahwa: konsep merupakan rancangan, ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret. Sementara konsepsi adalah pengertian, pendapat (paham) atau rancangan (cita-cita dsb) yang telah ada dalam pikiran. Sedangkan orang yang mencetuskan atau mula-mula memiliki gagasan atau penyusun konsep dinamakan konseptor.

Sementara wikipedia menyatakan, bahwa konsep adalah abstrak, entitas (sesuatu yang memiliki keberadaan yang unik dan berbeda, walaupun tidak harus dalam bentuk fisik) mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan.

Dari beberapa pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa konsepsi adalah sebuah rancangan dari sebuah ide atau gagasan yang masih dalam bentuk abstrak yang akan diaplikasikan dalam bentuk pelaksanaan sehingga menjadi kongkret (nyata).

Sedangkan Kurikulum secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang berarti pelari dan “curere” yang artinya tempat berpacu. Dengan demikian istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi kuno di Yunani yang mengandung pengertian jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu. Dan Dedy Pradibto, dalam bukunya yang berjudul Belajar Sejati Versus Kurikulum Nasional menyatakan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan.

 

 

Sedangkan konsepsi kurikulum merupakan rancangan dari sebuah ide atau gagasan yang masih dalam bentuk abstrak yang akan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku berdasarkan pertimbangan isi, tujuan, materi, metode, sistem dan pelaksanaan kurikulum tersebut.

  1. 2.             Latar Belakang Munculnya berbagai Macam Konsep Kurikulum

Model konsep kurikulum muncul sebagai implikasi dari adanya berbagai aliran dalam pendidikan, karena kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu. Nana S. Sukmadinata (1997) mengemukakan 4 (empat ) teori pendidikan, yaitu :

(1) pendidikan klasik;

(2) pendidikan pribadi;

(3) teori pendidikan interaksional dan

(4). teknologi pendidikan.

Pertama aliran pendidikan klasik-tradisional yang melahirkan konsep kurikulum rasionalisasi atau subjek akademis. Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Essensialisme, dan Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik. Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu kurikulum yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan ide-ide dan proses ”penelitian”, melalui metode ekspositori dan inkuiri.

Kedua, aliran pendidikan pribadi melahirkan konsep kurikulum aktualisasi diri atau humanistik. Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik. Teori ini memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Pendidikan progresif dengan tokoh pendahulunya- Francis Parker dan John Dewey – memandang bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi pengajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya. Berkat refleksinya itu, ia dapat memahami dan menggunakannya bagi kehidupan. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu perkembangan peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Pendidikan romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran J.J. Rouseau tentang tabula rasa, yang memandang setiap individu dalam keadaan fitrah,– memiliki nurani kejujuran, kebenaran dan ketulusan. Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).

Ketiga, aliran pendidikan interaksionis melahirkan konsep kurikulum rekontruksi sosial. Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial. Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk memecahkannya.

Keempat, aliran pendidikan teknologis melahirkoan konsep kurikulum teknologi. Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam tekonologi pendidikan, lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. Dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus. Isi pendidikan berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning), lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan. Teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis, yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik, melalui metode pembelajaran individual, media buku atau pun elektronik, sehingga mereka dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar tertentu.

  1. 3.             Model Konsep Kurikulum

Model konsep kurikulum tidak terlepas dari apa yang dikemukakan Hilda Tiba dalam bukunya Curriculum Devolepment Theory and Practicebahwa terdapat tida fungsi kurikulum, yaitu:

(1) sebagai transmisi, yaitu mewarisi nilai-nilai budaya,

(2) sebagai transformasi, yaitu melakukan perubahan dan rekontruksi sosial, dan

(3) sebagai pengembangan individu.

 

Fungsi pertama dapat direalisasikan melalui konsep kurikulum subjek akademik, fungsi keduia dapat diwujudkan melalui konsep kurikulum rekontruksi sosial, dan fungsi ketiga dapat direfleksikan melalui konsep kurikulum humanistik (aktualisasi diri)

Kurikulum sebagai suatu rencana yang menjadi panduan dalam menjalankan roda proses pendidikan di sekolah akan mempunyai bentuk yang berbeda-beda sebagai akaibat dipegangnya konsep tentang fungsi pendidikan itu. Oleh sebab konsep tentang fungsi pendidikan itu bermacam-macam, maka konsep kurikulum pun bermacam-macam pula. McNeil (1981), mengkategorikan konsep kurikulum ini ke dalam empat macam, yaitu:

(1) konsep kurikulum Subjek Akademik,

(2) konsep kurikulum Humanistik,

(3) konsep kurikulum Rekonstruksi sosial,

(4) konsep kurikulum Teknologis (kompetensi).

  1. A.           KONSEP KURIKULUM SUBJEK AKADEMIK

Kurikulum ini merupakan model konsep kurikulum yang paling tua, sejak sekolah yang pertama dulu berdiri. Kurikulum ini menekankan pada isi atau materi pelajaran yang bersumber dari disiplin ilmu. Penyusunannya relatif mudah, praktis, dan mudah digabungkan dengan model konsep yang lain. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik, perenialisme (Kurikulum berfokus pada pengembangan diri) dan esensialisme (Kurikulum befokus pada keterampilan penting), yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditentukan oleh pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan adalah memelihara dan mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi yang baru. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan, belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagaian besar pendidikan yang diberikan oleh guru. Jadi seorang guru harus berhati-hati dalam bertindak dan harus menjadi teladan bagi murid-muridnya, karena ucapan dan tindakan guru akan dicontoh oleh murid-muridnya sebagai mana dalam pepatah jawa bahwa guru adalah digugu dan ditiru.

 

Konsep kurikulum akademis meahirkan bentuk-bentuk kurikulum yang berorientasi pada mata pelajaran. Bahan-bahan mata pelajaran yang menjadi kurikulum diseleksi dari disiplin-disiplin ilmu terkait yang dipandang dapat mengembangkan melakukan proses kognitif. Bentuk lain dari kurikulum yang lahir berdasarkan konsep kurikulum akademis adalah kurikulum inti atau core curriculum. Kurikulum ini berisi mata pelajarandan bahan pelajaran yang berdifat fundamental, dan dianggap paling penting untuk dikuasai oleh setiap siswa.

Pembahasan berkaitan dengan landasan filsafat dari konsep kurikulum subjek akademis, Nana Syaodih (2009:81) menjelaskan bahwa kurikulum subjek akademis merupakan model kurikulum yang dikembangkan dari teori pendidikan klasik aliran perenialisme dan esensialisme. Perenialisme berorientesi kemasa lalu dan kurang memperhatikan tuntutan perkembangan yang terjadi, perenialisme lebih memprioritaskan penekanan terhadap humanitas, pembentukan pribadi, sifat-sifat mental. Isi pendidikan dalam aliran ini bersifat pendidikan umum dengan konsep pendidikan bebas nilai dan bebas dari kebudayaan. (Nana Syaodih, 2009:9)

Aliran dalam pendidikan klasik lainnya adalah aliran esensialisme yang lebih mengutaman sains daripada humanitas, aliran ini bertujuan dalam mempersiapkan generasi muda dalam dunia kerja dengan pembentukan keterampilan dan kemampuan vocational. Konsep pendidikan dalam aliran ini menekankan kepada saat ini dan yang akan datang. (Nana Syaodih, 2009:9)

Ditinjau dari kerangka dasar kurikulum, konsep kurikulum subjek akademik memiliki karatristik tertentu, antara lain :

  1. Tujuan, yaitu mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui penguasaan disiplin ilmu. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, para siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Sekolah harus memberikan kesempatan kepada para siswa untuk merealisasikan kemampuan mereka menguasai warisan budaya.
  2. Isi atau materi, yaitu mengambil dari berbagai disiplin ilmu yang telah disusun oleh para ahli kemudian diorganisasikan sesuai kebutuhan pendidikan. Pola organisasi materi yang digunakan dalam kurikulum subjek akademik adalah: (1) Correlatet curriculum adalah konsep yang dipelajari dalam satu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya, (2) Unifiet atau Concentrated curriculum adalah bahan pelajaran yang tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu, (3) Integrated curriculum adalah bahan ajar yang diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan datau segi kehidupan tertentu, (4) Problem solving curriculum adalah topik pemecahan masalah sosial dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran aatu disiplin ilmu.
  3. Metode, metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademik adalah metode eksposotori danm inkuiri.
  4. Evaluasi, yaitu menggunakan jenis dan bentuk evaluasi yang bervariasi.

Konsep kurikulum ini mendapat kritikan tajam dari berbagai aliran pendidikan yang lain. Kritikan tersebut sekaligus menunjukkan kelamahan konsep kurikulum ini, yaitu :

(a)   terlalu menonjokan domain kognitif-akademis sehingga domain afektif, psikomotor, sosial, emosional menjadi terabaikan,

(b) konsep yang dikembangkan para ahli belum tentu sesuai dengan minat dan kebutuhan anak,

(c)   tidak semua peserta didik dapat memahami dan menggunakan metode ilmiah,

(d) tidak semua anak anak menjadi ilmuwan profesional,

(e)   guru tidak atau jarang terlibat dalam penelitian.

 

Dalam perkembangannya kurikulum subjek akademis ini tidak hanya menekankan pada isi atau materi pendidikan yang disampaikan oleh pendidik, tetapi secara berangsur-angsur yang juga diperhatikan dan ditekankan adalah proses belajar yang dilakukan oleh para siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dan diutamakan dalam materi pelajaran tersebut.

Jeromo Bruner dalam The Proces of Education menyarankan bahwa desai kurikulum hendaknya didasarkan atas struktur disiplin ilmu. selanjutnya, ia menegaskan bahwa kurikulum suatu mata pelajaran harus didasarkan atas pemahaman yang mendasar yang dapat diperoleh dari prinsip-prinsip yang mendasarinya dan memberi struktur kepada suatu disiplin ilmu.

 

Contoh kurikulum yang berdasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man : A Course of  Stud (MACOS) Macos adalah kurikulum yang dipakai untuk sekolah tingkat dasar, yang terdiri atas buku-buku, film, poster, rekaman, permainan, dan perlengkapan kelas lainnya. kurikulum ini ditujukan untuk mengadakan penyempurnaan tentang pengajaran ilmu sosial dan humanitas, dengan pengarahan dan bimbingan Bruner.

Ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis :

Pertama, melanjutkan pendekatan struktur  pengetahuan. Para murid belajar bagaimana memperoleh dan menguji fakta-fakta dan bukan sekedar mengingat-ingatnya.

Kedua, studi yang bersifat integratif. pendekatan ini merupakan respons terhadap perkembangan masyarakat yang menuntuk model-model pengetahuan yang lebih komprehensif-terpadu. pelajaran disusun atas satuan-satuan pelajaran, dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmu menjadi hilang. pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan pada fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada. Mereka mengembangkan suatu model kurikulum yang terintegrasi (Integrated Curriculum). Ada tiga ciri model kurikulum yang dikembangkan.

a.       Menentukan tema-tema yang membentuk satu kesatuan yang dapat terdiri atas ide atau konsep besar yang bisa mencakup semua ilmu atau suatu proses kerja ilmu, fenomena alam, atau masalah sosial yang membutuhkan pemecahan secara ilmiah.

b.       Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa disiplin ilmu. Kegiatan belajar melibatkan  isi dan proses dari satu atau beberapa ilmu sosial atau perilaku yang mempunyai hubungan dengan tema yang dipilih atau dikerjakan.

c.       Menyatukan berbagai metode atau cara balajar. kegiatan belajar ditekankan pada pengalaman konret yang bertolak dari minat dan kebutuhan murid serta disesuaikan dengan keadaan setempat

Ketiga, adalah pendekatan yang diterapkan di sekolah-sekolah fundamintalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata pelajaran yang titik tekannya pada membaca, menulis, dan memecahkan masalah-masalah matematis. Beberapa pelajaran yang lain seperti ilmu kealaman , ilmu sosial, dan lain-lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecahan masalah dalam kehidupan nyata.

 

1.      Ciri-Ciri Kurikulum Subjek Akademis

Kurikulum subjek akademis ini memiliki beberapa ciri yang berkenaan dengan tujuan, metode,  organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan dari kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”. Setelah para siswa mempunyai pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, diharapkan mereka dapat memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang bisa terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas.

Adapun metode yang seringkali digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri.  sedankan mengenai organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Nana menyebutkan empat pola organisasi isi yang menurutnya adalah menduduki paling sentral (penting) sebagai berikut :

a)    Correlated curriculum adalah pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari  dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran yang lain.

b)    Unified atau concentrated curriculum adalah  pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.

c)    Integrated curriculum adalah pola organisasi bahan ajar yang diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu. Perbedaan mendasar  dari integrated curriculum dengan unified adalah jika dalam unified masih tampak disiplin ilmunya, maka dalam pola integrated ini warna disiplin ilmu tersebut sudah melebur sehingga tidak kelihatan lagi.

d)    Problem solving curriculum adalah pola organisasi materi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengam menggunakan  pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.

 

Selanjutnya mengenai kegiatan evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk yang bervariasi disesuaiakan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang studi  humaniora lebih banyak menggunakan bentuk uraian (essay test) daripada tes objektif. Bidang studi tersebut membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara menyeluruh. Bidang studi seni yang sifatnya  ekspresi membutuhkan penilaian subjektif yang jujur, disamping keindahan dan cita rasa. beda halnya dengan bidang studi matematika, nilai tertinggi diberikan kepada mengusai landasan aksioma serta  cara penghitungannya benar. Bidang studi ilmu kealaman  penghargaan tertinggi tidak hanya diberikan kepada jawaban yang benar tetapi juga pada proses berfikir yang digunakan siswa.

 

2.      Pemilihan Disiplin Ilmu

Dalam kurikulum subjek akademis ini yang menjadi masalah besar bagi para pengembang kurikulum ini  adalah hal yang berkaitan dengan bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Sebab jika inging memiliki pengusaan materi yang cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmu yang dipelajari harus sedikit. Sedangkan, jika hanya mempelajari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sangat terbatas, sehingga konskoensinya adalah sulit untuk menerapkannya dalam kehidupan masyarakat secara luas. dan apabila disiplin ilmu yang dipelajari siswa sangat banyak, maka penguasaannya pada materi tersebut akan dangkal. mereka akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak memdalam).

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, Nana, memberikan beberapa saran mengenai hal itu, sebagaimana berikut :

a.    Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness) dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahun.

b.    Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility), memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat.

c.    Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar bagi penguasaan disiplin-disiplin ilmu yang lainnya.

 

3.      Penyesuaian Dengan Perkembangan Anak

Para pengembang kurikulum subjek akademis, cendrung lebih mengutamakan penyusunan materi secara logis dan sistematis daripada menyelaraskan urutan materi dengan kemampuan berfikir anak (siswa). Yakni, mayoritas mereka kurang memperhatikan bagaimana siswa belajar dan yang diutamakan adalah susunan isi atau materi, yaitu apa yang akan diajarkan. Juga mereka memandang materi yang akan diajarkan bersifat universal, mereka mengabaikan karakteristik siswa dan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat.

Dalam perkembangan selanjutnya dilakukanlah beberapa penyempurnaan yang ditujukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada sebelumnya. pertama, untuk mengimbangi penekannya pada proses berfikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebak-tebakan. kedua, adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat. ketiga, pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.

 

  1. B.            KONSEP KURIKULUM HUMANISTIK

 

  1. Konsep Dasar

Konsep kurikulum ini dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistic. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu John Mewey dan J.J. Rousseau, yang lebih menekankan pada pengembangan kepribadian peserta didik secara utuh dan seimbang antara perkembangan segi intelektual, afektif, dan psikomotor. Kurikulum ini menekankan pengembangan dan kemampuan dengan memperhatikan minat dan kebutuhan peseta didik dan pembelajarannya berpusat pada peserta didik. Pembelajaran segi-segi sosial, moral, dan afektif mendapat perhatian utama dalam model kurikulum ini. Mereka percaya bahea siswa mempunyai potensi, punya kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang.

Para pendidik humanistic juga berpegang pada konsep Psoikologi Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan pada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai dll). Dalam hal ini ada beberapa aliran dalam pendidikan humanistic yaitu pendidikan konfluen, kritikisme radikal dan mistikisme modern

Kurikulum humanistic bersifat child-cebtred (berpisat pada anak didik) yang menekankan ekspresi diri decara kreatif individualis, dan aktivitas pertumbuhan dari dalam, bebas paksaan dari luar. Menurut Mc.Neil ciri-ciri kurikulum humanistic adalah

  1. Partisipasi, artinya peserta didik terlibat secara aktif merundingkan apa yang akan dipelajari.
  2. Integrasi, artinya ada interpenetrasi dan integrasi antara pikiran, perasaan dan tindakan (kognitif, efektif, dan psikomotor).
  3. Relevansi, artinya terdapat kesesuaian antara materi pelajaran dan kebutuhan poko serta kehidupan anak ditinjau dari segi emosi dan intelektual.
  4. Diri anak, merupakan sasaran utama yang harus dipelajari agar anak mengenal dirinya.
  5. Tujuan, yaitu mengembangkan diri anak sebagai suatu keseluruhann (Pribadi yang utuh) dalam masyarakat.

Sedangkan ditinjau dari kerangka dasar kurikum, konsep kurikulum humanistik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan pribadi yang utuh dan dinamis.
  2. Materi, yaitu menyediakan pengalaman yang berharga bagi setiap anak yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadinya secara utuh, membantu anak menemukan dan mengaktualisasikan diri, yang berkenaan dengan intelektual, emosional maupun performance.
  3. Proses, yaitu terbangunnya emosional yang kondisuf antara guru dan siswa.
  4. Evaluasi, yaitu lebih mengutamakan proses daripada hasil, karena itu sifatnya dubjektif, baik dari guru maupun siswa.

Kurikulum humanistik berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (personalized), John Dewey (progressive education)dan J.J. Rousseau (ramantic education). Mereka berasumsi bahwa siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Mereka juga percaya bahwa siswa atau anak memiliki potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh tidak hanya segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif  yakni; emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain.

Aliran-aliran pendidikan yang termasuk pada aliran pendidikan  humanistik yaitu :

pertama, pendidikan konfluen. Aliran ini lebih menekankan keutuhan pribadi, individu harus merespons secara utuh baik segi pikiran, perasaan, maupun tindakan, terhadap kesatuan yang menyeluruh dari lingkungan.

kedua, pendidikan kritisisme radikal. aliran ini bersumber dari aliran naturalisme dan romantisisme Rousseau. Mereka memandang pendidikan sebagai uapaya untuk membantu siswa atau anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.

ketiga, pendidikan mistikisme  modern. aliran ini menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sesitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya.

 

2.      Kurikulum Konfluen

kurikulum konfluen ini dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen, yang berkeinginan menyatukan segi-segi afektif yakni; sikap, perasaan, dan nilai dengan segi-segi kognitif (kemampuan intelektual). pendidikan konfluen kurang menekankan pada pengetahuan yang mengandung segi afektif. menurut pendapat mereka kurikulum tidak menyiapkan pendidikan tentang sikap, perasaan, dan nilai yang harus dimiliki para siswa. kurikulum hendaknya mempersiapkan berbagai alternatif yang dapat dipilih setiap siswa dalam proses bersikap, berperasaan dan memberi pertimbangan nilai. setiap siswa seharusnya diajak untuk menyatakan pilihan dan mempertanggungjawabkan sikap-sikap, perasaan-perasaan, dan pertimbangan-pertimbangan nilai yang sudah dipilihnya.

 

3.      Ciri-Ciri Kurikulum Konfluen

Kurikulum ini mempunyai lima ciri utama sebagai berikut :

a.    Partisipasi. kurikulum ini menekankan partisipasi anak atau siswa dalam belajar. kegiatan belajar adalah belajar bersama, melalui berbagai bentuk aktivitas kelompok.

b.    Integrasi. melalui partisipasi dalam berbagai bentuk kegiatan kelompok dapat terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan,dan tindakan.

c.    Relevansi. isi pendidikan relevan dengan kebutuhan, minat dan kehidupan siswa karena diambil dari dunia siswa oleh siswa sendiri.

d.    Pribadi anak. pendidikan ini memberi tempat utama pada pribadi anak. pendidikan adalah pengembangan pribadi anak secara utuh.

e.     Tujuan. pendidikan ini bertujuan mengembangkan pribadi yang utuh, serasi baik dalam dirinya maupun dengan lingkungan secara menyeluruh.

 

 

 

4.      Metode-Metode Belajar Konfluen

Menurut Nana, dalam bukunya bahwa george issac brown sudah memberikan sekitar 40 macam teknik pengajaran konfluen, di antaranya adalah : dyads yang merupakan latihan komonikasi afektif antara dua orang, fantasi body trips merupakan pemahaman tentang badan dan diri individu, ritual yaitu merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan kebiasaan, kegiatan atau ritual baru.

Dalam kegiatan belajar ada beberapa metode atau cara yang bisa dilaksanakan sebagaimana berikut :

Pertama, mengidentifikasi tema-tema atau topik-topik yang mengandung self judgment. untuk setiap tema atau topik hendaknya dipilih prosedur atau bentuk kegiatan atau teknik yang sesuai.

Kedua, materi disajikan dalam bentuk yang belum selesai (open ended), tema atau issue-issue diharapkan muncul secara sepontan dari prosedur serta perlengkapan pengajaran yang ada.

 

5.      Karakteristik Kurikulum Humanistik

Kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik, berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. diantaranya adalah :

a)        Kurikulum berfungsi sebagai penyedia pengalaman (baca: pengetahuan) berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi anak atau siswa.

b)        Kurikulum ini menuntuk hubungan emosional yang baik antara guru dan murid, juga guru harus mampu menjadi sumber.

c)        Kurikulum ini menekankan integrasi, yaitu kesatuan prilaku bukan hanya yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan.

d)       Kurikulum humanistik harus mampu memberikan pengetahuan yang menyeluruh, bukan pengalaman yang terpenggal-penggal.

e)        Kurikulum ini kurang menekankan sekuens, karena dengan sekuens para siswa kurang mempunyai kesempatan untuk memperluas dan memperdalam aspek-aspek perkembangannya.

f)         Kurikulum ini lebih mengutamakan proses daripada hasil.

 

 

  1. KONSEP KURIKULUM REKONSTRUKSI SOSIAL

Konsep kurikulum ini lebih memusatkan perhatiannya pada problema-problema yang dihadapi dalam masyarakat, kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukanlah merupakan upaya sendiri, tetapi merupakan kegiatan bersama, interaksi, dan kerjasama. Melalui interaksi dan kerjasama ini peserta didik berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentuan masyarakat yang kebih baik. Sekolah bukan hanya dapat membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.

Kurikulum Rekonstruksi Sosial memiliki desain kurikulum yang berbeda dengan model kurikulum lain, beberapa ciri dari kurikulum ini adalah14:

1)      Asumsi, tujuan utama dari kurikulum ini adalah menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia.

2)      Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial mendesak.

3)      Pola-pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda, di tengah-tengahnya sebagai poros dipilih suatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahas secara pleno.

Kurikulum Rekonstruksi Sosial memiliki komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum yang lain, tetapi isi dibentuk berbeda, diantaranya sebagai berikut:

1)      Tujuan dan Isi kurikulum, setiap tahun program pendidikan mempunyai tujuan-tujuan yang berbeda disesuaikan dengan masalah sosial yang ada disuatu tempat.

2)      Metode, dalam pembelajaran rekonstruksi sosial pengembang kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan peserta didik.

3)      Evaluasi, dalam kegiatan evaluasi para peserta didik juga dilebatkan, keterlibatan para peserta didik terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan.

 

Kurikulum rekontruksi sosial lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang terjadi dan dihadapinya dalam kehidupan masyarakat. kurikulum ini tentu berbeda dengan model-model kurukulum yang lainnya. kurikulum ini juga bersumber dari aliran pendidikan interaksional. Yang menurut mereka pendidikan  bukan upaya sendiri, melaikan merupakan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama. interaksi dan kerja sama tersebut tidak hanya terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya. melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Theodore Brameld, seperti yang dikutip oleh Sukmadinata, menyampaikan gagasannya tentang rekontruksi sosial, yang terjadi pada tahun 1950-an. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. untuk melaksanakan hal tersebut sekolah mempunyai posisi yang sangat penting. sekolah bukan saja dapat membantu individu memperkembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.

 

1.      Desain kurikulum Rekontruksi Sosial

Ada beberapa ciri dari desain kurikulum ini;

a.    Asumsi. Tujuan utama kurikulum rekontruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tangtangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia.

b.    Masalah-masalah sosial yang mendesak. kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak. masalah-masalah tersebut dirumuskan dalam pertanyaan, seperti: dapatkah kehidupan seperti sekarang ini  memberikan kekuatan untuk menghadapi ancaman-ancaman yang akan mengganagu integrasi kemanusiaan?.

c.    Pola-pola organisasi. pada tingkat sekolah menengah, pola organisasi kurikuluum disusun seperti sebuah roda. di tengah-tengahnya sebagai poros dipilih sesuatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahas secara pleno. dari tema utama dijabarkan sejumlah topik yang dibahas dalam diskusi-diskusi kelompok, latihan-latihan, kunjungan dan lain-lain. topik-topik dengan berbagai kegiatan kelompok ini merupakan jari-jari.

 

2.     Komponen-Komponen Kurikulum Rekontruksi Sosial

a.    Tujuan dan isi kurikulum.

b.   Metode.

c.    Evaluasi.

3.     Pelaksanaan Pengajaran Rekontruksi Sosial

Pengajaran rekontruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. pelaksanaan pengajaran diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. sesuai dengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensi tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah, sekolah berusaha mengembangkan potensi tersebut. Di daerah pertanian misalnya sekolah mengembangkan bidang pertanian dan peternakan, di daerah industri  mengembangkan bidang-bidang industri.

Salah satu badan yang banyak mengembangkan baik teori maupun prakti pengajaran rekontruksi sosial adalah Paulo Freize. Mereka banyak membantuk pengembangan daerah-daerah di Amirika latin. dalam memerangi kebodohan dan keterbelakangan mereka menggalakkan gerakan budaya budi (conscientization). Conscientization adalah suatu proses pendidikan atau pengajaran memperlakukan siswa tidak sebagai penerima melainkan pelajar yang aktif.

  1. D.           KONSEP KURIKULUM TEKNOLOGIS (KOMPETENSI)

Kompetensi dapat didefinisikan sebagai pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Perkembangan tehnologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu tehnologi telah diterapkan dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah tehnologi sederhana seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grib, dan lain-lain. Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang digunakan adalah tehnologi maju, seperti audio dan video cassette, overhead projektor, film slide dan motion film, mesin pembelajar, computer, CD-Room, and internet.15

 

Ada beberapa ciri dari kurikulum kompetensi yang dikembangkan dari konsep tehnologi pendidikan, yaitu:

1)      Tujuan diarahkan pada penguasaan kemampuan akademik, kemampuan vokasional, atau kemampuan pribadi yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi.

2)      Metode yang merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons yang diharapkan, respons tersebut diperkuat.

3)      Bahan ajar atau kompetensi yang luas/besar dirinci bagian-bagian atau sub kompetensi yang lebih kecil, yang menggambarkan obyektif.

4)      Evaluasi dilaksanakan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit, ataupun semester. Fungsi dari evaluasi ini adalah; sebagai umpan balik bagi peserta didik dalam penyempurnaan penguasaan suatu satuan pelajaran, sebagai umpan balik bagi peserta didik pada akhir suatu program atau semester, juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan pengembangan kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum.

Abad dua puluh ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. sejak dahulu teknologi telah diterapkan dalam pendidikan, tetapi teknologi sederhana. misalnya penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, dan lain-lain. Dewasa ini yang digunakan dalam pendidikan adalah teknologi maju, seperti audio dan video cassette, overhead projector, film slide, dan motion film, mesin pengajar, komputer, CD-rom dan internit.

Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) yang dikenal dengan teknologi alat (tools technology) dan perangkat keras (hardware) yang dikenal dengan sebutan teknologi sistem (system technology).

Teknologi pendidikan dalam bentuk teknologi alat, lebih menekankan pada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efiensi dan efektivitas pendidikan. kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga model-model yang banyak melibatkan penggunaan alat.

contoh model pengajaran tersebut adalah : pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, masin pengajaran dan lain-lain.

Dalam bentuk teknologi sistem, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran  dengan menggunakan pendekatan sistem.

 

  1. Ciri-ciri kurikulum teknologis

Kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan memiliki beberapa ciri khusus sebagai berikut :

1)             Tujuan. tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku. tujuan yang bersifat umum yaitu kompetensi dirinci menjadi tujuan-tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuan intruksional. Objektif ini menggambarkan prilaku, perbuatan atau kecakapan-keterampilan yang dapat diamati atau diukur.

2)             Metode. Metode yang dipakai adakalanya berupa pengajaran yang bersifat individual, tiap siswa menghadapi serentetan tugas yang harus dikerjakannya, dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. Pada saat tertentu ada tugas-tugas kelompok.

Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

a)         Penegasan tujuan, yaitu para siswa diberi penjelasan tentang pentingnya bahan yang harus dipelajari.

b)        Pelaksanaan pengajaran, para siswa belajar secar individual melalui media buku-buku ataupun media elektronik.

c)         Pengetahuan tentang hasil, kemajuan siswa dapat segera diketahui oleh siswa sendiri, sebab dalam model kurikulum ini umpan balik selalu diberikan.

3).        Organisasi bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan sesuatu kompetensi.

4).        Evalusi. kegiatan evaluasi dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit ataupun semester. evaluasi yang digunakan umumnya berentuk tes objektif. Sesuai dengan landasan pemikiran mereka, bahwa model pengajarannya menekankan sifat ilmiah, bentuk ini tes dipandang lebih cocok.

 

2.      Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa kriteria, yaitu : pertama, prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain. kedua, hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikan hasil yang sama.

Inti dari pengembangan kurikulum teknologi adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada kompetensi tertentu.

 

 

  1. E.            APLIKASI KBK dan KTSP

 

Bagian ini membahas aplikasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang akan menjawab pertanyaan tentang model kurikulum yang mana yang mendasari aplikasi KBK dan KTSP yang dikembangkan di Indonesia?

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), karena kurikulum ini para pesertadidik dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTEK tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek dan setiap kegiatan siswa ada nilainya.(http://id.wikipedia.org/wiki/ Kurikulum_Berbasis_ Kompetensi)

Konsep KBK ini yang menggunakan metode yang  bersifat individual, kemudian pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut; Penegasan tujuan kepada siswa, pelaksanaan pengajaran, pengetahuan tentang hasil, organisasi bahan ajar, dan evaluasi. (Nana Syaodih, 2008: 97) Jadi model kurikulum yang mendasari KBK adalah kurikulum teknologis.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi, yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP didasari oleh KSA, Kurikulum Humanistik, Kurikulum Rekontruksi Sosial, dan Kurikulum Teknologi. Gambaran dari konsep KSA dalam KTSP dapat dianalisa berdsarkan struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh pesertadidik dan kriteria dalam keberhasilan KTSP lebih banyak diukur dari penguasaan pesertadidik terhadap materi pelajaran.

Kurikulum humanistik pada KTSP dapat dianalisa berdasarkan orientasi KTSP terhadap pengembangan pesertadidik dengan menekankan pada aktivitas pesertadidik untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran melalui berbagai pendekatan strategi pembelajaran selain itu KTSP  juga menekankan aspek pengembangan minat dan bakat pesertadidik.

Kurikulum Rekontrusksi Sosial tergambar melalui kurikulum KTSP yang mengaksess kepentingan daerah berupa potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan pesertadidik serta lingkungan sekitarnya, hal ini juga tercermin dalam program muatan lokal yang didasarkan pada kondisi daerah masing-masing.

KTSP merupakan kurikulum teknologis yang dilihat dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang dijabarkan dalam indikator dengan sejumlah prilaku yang terukur untuk penelitian. (Wina Sanjaya, 2008;130-131)

 

  1. F.            KURIKULUM 1994

 

Bagian ini membahas kurikulum 1994 yang akan menjawab pertanyaan tentang apakah kurikulum 1994 berbasis materi? Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Wawan Junaidi, 2009 dalam http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/11/kurikulum-1994.html)

Berdasarkan  landasan filosofis, tujuan, materi, proses pembelajaran, dan evaluasi dalam kurikulum 1994 tergambar bahwa kurikulum ini berbasis materi, hal ini berdasarkan analisis di globotech88.wordpress.com. (diakses 24 Maret 2012)

Berdasarkan landasan filosofis, kurikulum 1994 sesuai dengan aliran filsafat perenialisme, karena pada kurikulum 1994 lebih fokus kepada aspek kognitif dan mengabaikan aspek-aspek lainnya. Jika dianalisis berdasarkan tujuan dalam kurikulum 1994 muncul istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Kegiatan belajar cenderung di dalam kelas, mengejar target berupa materi yang harus dikuasai, berorientasi kognitif. Bahan ajar yang akan disampaikan oleh guru harus berdasarkan pada TIU dan TIK (tujuan pembelajaran). Selain itu, kurikulum 1994 bertujuan untuk membekali siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Analisis yang sama juga diperoleh berdasarkan materi dalam kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia dalam artian materi pembelajaran ditentukan oleh pemerintah. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial supaya tercapai target. Dalam proses pembelajaran pada kurikulum 1994 muncul istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Kegiatan belajar cenderung didalam kelas. Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran. fokuskan pada aspek kognitif, pemahaman siswa tentang materi. Penyusunan bahan penilaian didasarkan pada tujuan perkelas dan persemester. Pada kurikulum ini, keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan berdasarkan perolehan nilai yang dapat diperbandingkan dengan sisa lain. Evaluasi pelajaran dilaksanakan dengan teknik paper dan pecil test

 

  1. G.           Proporsi KBI dan KBK Pada Pendidikan Vokasional, Profesional, dan Akademik

 

Bagian ini akan menjawab pertanyaan tentang benarkah  pada pendidikan vokasional dan pendidikan profesional lebih besar proporsi KBKnya? Sedangkan pada pendidikan akdemik lebih besar proporsi KBI nya?

Pendidikan vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya.  Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi  pada  sistem  pembelajaran  keahlian  (apprenticeship  of  learning)  pada kejuruan-kejuruan  khusus  (specific  trades).   Kelebihan  pendidikan  vokasional  ini,  antara lain, peserta didik secara langsung dapat mengembangkan keahliannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan atau bidang tugas yang akan dihadapinya. (Ratna Nurseha . , dalam www.sukabumikota.go.id diakses 24 March 2012) berdasarkan karakterisitk menurut Ratna Nurseha, penulis menyimpulkan bahwa jumlah porsi untuk KBK pada pendidikan Vokasional haruslah lebih besar dari KBI dengan harapan dimilikinya kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja

Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Lulusan pendidikan profesi akan mendapatkan gelar profesi.( dalam Wikipedia diakses 24 March 2012) dalam pendidikan profesi juga diperlukan pemahaman terhadap teori dan aplikasi dari teori tersebut jadi akan menjadi sebuah kewajaran jika porsi KBK akan lebih besar dari KBI dalam pendidikan professional.

Pendidikan akademik adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup program pendidikan sarjana, magister, dan doktor.( dalam Wikipedia diakses 24 March 2012) Tujuan utama dari pendidikan akademik adalah pengusaan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang menuntut aktifitas khusus untuk penguasaan materi keilmuan jadi memerlukan porsi KBI yang besar untuk menunjang program pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

 

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan konsep-konsep yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.

Kurikulum tidak seharusnya bersifat statis. Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, kurikulum senantiasa berkembang dan menyelaraskan diri dengan kemajuan zaman.Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang berupa proses dinamis harus didukung dengan model-model konsep kurikulum melalui langka-langkah yang sistematis, profesional dan melibatkan seluruh aspek yang terkait dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional.

 

  1. Saran

Alhamdulillah kami panjatkan sebagai implementasi rasa syukur kami atas selesainya makalah ini. Namun dengan selesainya bukan berarti telah sempurna, karena kami sebagai manusia biasa sadar bahwa dalam diri kami tersimpan berbagai sifat kekurangan dan ketidaksempurnaan

Oleh karena itu saran dan masukkan serta kritik yang bersifat  membangun dari saudara selalu kami nantikan untuk dijadikan suatu pertimbangan dalam setiap langkah sehingga kami termotivasi kerah yang lebih baik tentunya dimasa yang akan datang. Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Mohammad. Pengembangan Kurikulum Di Sekolah. Bandung: CV Sinar Baru Offset, 1992.

Arifin, Zainal. Pendekatan Dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2001.

Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2001.

Nurdin, Syafrudin. dkk, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta : PT. Intermasa, 2003.

Pradibto, Dedy. Belajar Sejati Versus Kurikulum Nasional. Yogyakarta: Kanisius, 2007.

Setiawan, Ebta. KBBI ”Kamus Besar Bahasa Indonesia” Versi Offline 1.1 http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ (Freeware: KBBI ”Kamus Besar Bahasa Indonesia” Versi Offline 1.1, Aplication, 2010)

Sudrajat, Akmad. ”Hubungan Teori Pendidikan Dengan Kurikulum”, Wordpres http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/teori-pendidikan-dan-kurikulum, 30 Januari 2008, diakses tanggal 17 Nopember 2011.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1997.

Wikipedia, http://wikipedia.org/wiki/Entitas diakses tanggal 17 Nopember 2011.

http://kak-farih.blogspot.com/2011/10/model-konsep-kurikulum.html

Sukmadinata, Nana Syaodih, 2006, Pengembangan Kurikulum, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.

Brown, George Isaac (ed). (1975). The Live Classroom. New York:  The Viking Press

Gilchrist, Robert S. & Roberts. Bernice B. (1974). Curriculum Development : A Humanized System Approach. Belmont California : A Phi Delta Kappa Book

 

 

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/materi-pengembangan-kurikulum-kelompok-4/

Apr 28 2013

Pembagian Kelompok Mata Kuliah : Manajemen Keuangan Pendidikan

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH : MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Dr. H. Munawar Sholeh, M.Pd

Hari : Sabtu

 

KELOMPOK

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

1

ELEKTRINA + SITI NURJANAH + FARAH + WIDYA
  • TEORI-TEORI MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN

2

KOESHARIATMO + RUDI + AGUS + YOS + NURBAYANTI
  • SUMBER – SUMBER KEUANGAN PENDIDIKAN/
  • TAHAPAN/SPESIFIKASI/LANDASAN/KEUANGAN PENDIDIKAN
  • REGULASI KEUANGAN PENDIDIKAN

3

SOBIRIN + ELVIYANA + EKO + UDIN
  • PERENCANAAN MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN
  • KEBERHASILAN RANCANGAN UU KEUANGAN PENDIDIKAN

4

SOPANDI + JOKO + DIAN + GUNAWAN
  • EFEKTIFITAS, EFESIEN, TRANSPARANSI
  • AKUNTABILITAS MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN

5

LILIK + TIKNO + YUNING + TRI + BAMBANG
  • PERDA YANG COCOK DENGAN KEBIJAKAN SECARA NASIONAL
  • OTONOMI DAERAH TENTANG MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN

6

SRI INDRI + NURAENI + EKA + AGUNG
  • EVALUASI/BIMBINGAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN
  • FUNGSI, SUPERVISI,KAJIAN
  • MONITORING EVALUASI (MONEV)

 

 

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/pembagian-kelompok-mata-kuliah-manajemen-keuangan-pendidikan/

Apr 18 2013

Renungan / Muhasabah

• “Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.
1. Pemimpin yg adil,
2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya,
3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid
4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai
kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia
berkata, ‘Aku takut kepada Allah’
6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah
tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan
7. Seseorang yg mengingat Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah
air mata dr kedua matanya” (HR. Bukhari & Muslim) “Dari Abu
Hurairah ‘Abdurrahman Bin Shakhr RA, Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula
melihat rupamu tetapi Allah melihat hatimu.” (HR. Muslim)

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/renungan-muhasabah/

Apr 18 2013

Kata-kata Bijak ( Shobirin Asyiddah )

• Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa
yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang
harga dirinya, bererti dia tidak wara’, sedang orang yang tidak wara’
itu bererti hatinya mati. (Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)
• Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah: Hatinya selalu
berniat suci. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah. Kedua matanya
menangis kerana penyesalan (terhadap dosa).

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/kata-kata-bijak-shobirin-asyiddah/

Mar 29 2013

Pembagian Tugas Individu & Kelompok (Semester 3)

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH : PENGEMBANGAN KURIKULUM

Dosen Pengampu : Dr. Hj. Ihsana El Khuluqo, M.Pd

Hari : Sabtu

 

PERTEMUAN

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

1

AGUNG + BAMBANG Kedudukan, konsep dan teori kurikulum

2

EKA + ELEKTRINA Landasan filosofis dan psikologis dalam pengembangan kurikulum

3

FARAH + GUNAWAN Landasan social budaya, perkembangan iptek dalam pengembangan kurikulum

4

KOES + RUDI Macam-macam model konsep kurikulum

5

NURBAYANTI + SITI NURJANAH Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum

6

SOPANDI + TRI Pengembangan kurikulum di Indonesia

7

UDIN + ELVIYANA Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum

8

AGUS + WIDYA Model-model pengembangan kurikulum

9

LILIK + JOKO Evaluasi kurikulum

10

EKO Guru dan pengembangan kurikulum

11

TIKNO Hidden kurikulum

12

YUNING Prinsip dasar pengembangan kurikulum

13

SOBIRIN + SRI Kerangka dasar, struktur dan penyusunan KTSP

14

YOS + DIAN Penerapan kurikulum 2013

15

NURAINI Renstra pendidikan 5 tahun

 

 

 

 

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH : EVALUASI PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Prof. Dr.H. Abd. Rahman A. Ghani, M.Pd

Hari : Sabtu

 

PERTEMUAN

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

Kelompok 1

YUNING + AGUNG + BAMBANG + DIAN Standar Kompetensi Lulusan

Kelompok 2

ELVIYANA + UDIN + TIKNO Standar Isi

Kelompok 3

SOBIRIN + SRI + NURAENI Standar Proses

Kelompok 4

ARI + RUDI + YOS + AGUS Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Kelompok 5

NURBAYANTI + SITI NURJANAH + FARAH Standar Sarana dan Prasarana

Kelompok 6

LILIK + JOKO + TRI Standar Pembiayaan Pendidikan

Kelompok 7

EKA + ELEKTRINA + EKO Standar Penilaian Pendidikan

Kelompok 8

WIDYA + GUNAWAN + SOPANDI Standar Pengelolaan Pendidikan

 

 

 

 

 

 

TUGAS INDIVIDU (setelah UTS)

MATA KULIAH : MANAJEMEN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief, MM, M.Pd

Hari : Minggu

No.

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

1

ELEKTRINA STARTEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

2

EKA BAHARI STRESS

3

FARAH ROKHANA PEMASARAN PENDIDIKAN

4

KOESHARIATMO TECHNICAL INFORMATION

5

NURBAYANTI KREATIFITAS DAN INOVASI

6

SOPANDI ORGANIZATIONAL BEHAVIOR IN EDUCATION

7

UDIN KOMARUDIN QUALITY ASSURANCE

8

AGUS PURWANTA KOMUNIKASI INTERPERSONAL

9

LILIK MUSYAROFAH PENGEMBANGAN ORGANISASI SEKOLAH

10

EKO WAHYU WIBOWO KEBIJAKAN PENDIDIKAN

11

TIKNO SUBADI REFORMASI BIROKRASI PENDIDIKAN

12

YUNING SEKOLAH EFEKTIF

13

SOBIRIN RELIGIOSITAS (Pengabdian Terhadap Agama)

14

YOS MANDALA SUPERVISI PENDIDIKAN

15

NURAENI HARAHAP PROFESIONALITAS GURU

16

AGUNG PRAMONO POLITICAL DIMENSION

17

DIAN ANGGA ECONOMIC AND FINANCING

18

BAMBANG KETAHANMALANGAN

19

JOKO KESEHATAN SOCIAL

20

WIDYA DEVI KEPEMIMPINAN VISIONER

21

ELVIYANA KEWIRAUSAHAAN

22

GUNAWAN PAMBUDI PRASARANA DAN SARANA PENDIDIKAN

23

SITI NURJANAH TOTAL QUALITY MANAJEMEN

24

SRI INDRIAWATI LAW AND PROFESIONAL

25

TRI WINDARTI MANAJEMEN KERJA

26

RUDI ROHDIAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

TUGAS KELOMPOK (pertemuan minggu ke-3)

MATA KULIAH : MANAJEMEN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief, MM, M.Pd

Hari : Minggu

 

MINGGU KE -

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

3

YUNING + TRI + ELVIYANA Kepemimpinan dalam Manajemen Pendidikan

4

LILIK  + SOBIRIN Strategi dan Pendidikan

5

EKO + GUNAWAN Pengambilan Keputusan Dalam Pendidikan

6

KOES + AGUS Perencanaan Dalam Pendidikan

7

NURBAYANTI + WIDYA Model dalam manajemen

9

RUDI + YOS Pengembangan SDM Pendidikan

10

UDIN + ELVIYANA Manajemen Berbasis Sekolah (SBM)

11

NURAENI + JOKO Pengawasan dan Supervisi Pendidikan

12

FARAH + SITI NUR Layanan dalam pendidikan

13

DIAN + BAMBANG + SRI INDRI Komunikasi dalam Pendidikan

14

AGUNG + TIKNO Efektifitas kualitas Guru dan tenaga kependidikan

15

EKA + SOPANDI Evaluasi dalam Pendidikan

 

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/pembagian-tugas-individu-kelompok-semester-3/

Page 2 of 2212345...1020...Last »