Apr 18 2013

Renungan / Muhasabah

• “Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.
1. Pemimpin yg adil,
2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya,
3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid
4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai
kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia
berkata, ‘Aku takut kepada Allah’
6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah
tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan
7. Seseorang yg mengingat Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah
air mata dr kedua matanya” (HR. Bukhari & Muslim) “Dari Abu
Hurairah ‘Abdurrahman Bin Shakhr RA, Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula
melihat rupamu tetapi Allah melihat hatimu.” (HR. Muslim)

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/renungan-muhasabah/

Apr 18 2013

Kata-kata Bijak ( Shobirin Asyiddah )

• Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa
yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang
harga dirinya, bererti dia tidak wara’, sedang orang yang tidak wara’
itu bererti hatinya mati. (Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)
• Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah: Hatinya selalu
berniat suci. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah. Kedua matanya
menangis kerana penyesalan (terhadap dosa).

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/kata-kata-bijak-shobirin-asyiddah/

Mar 29 2013

Pembagian Tugas Individu & Kelompok (Semester 3)

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH : PENGEMBANGAN KURIKULUM

Dosen Pengampu : Dr. Hj. Ihsana El Khuluqo, M.Pd

Hari : Sabtu

 

PERTEMUAN

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

1

AGUNG + BAMBANG Kedudukan, konsep dan teori kurikulum

2

EKA + ELEKTRINA Landasan filosofis dan psikologis dalam pengembangan kurikulum

3

FARAH + GUNAWAN Landasan social budaya, perkembangan iptek dalam pengembangan kurikulum

4

KOES + RUDI Macam-macam model konsep kurikulum

5

NURBAYANTI + SITI NURJANAH Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum

6

SOPANDI + TRI Pengembangan kurikulum di Indonesia

7

UDIN + ELVIYANA Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum

8

AGUS + WIDYA Model-model pengembangan kurikulum

9

LILIK + JOKO Evaluasi kurikulum

10

EKO Guru dan pengembangan kurikulum

11

TIKNO Hidden kurikulum

12

YUNING Prinsip dasar pengembangan kurikulum

13

SOBIRIN + SRI Kerangka dasar, struktur dan penyusunan KTSP

14

YOS + DIAN Penerapan kurikulum 2013

15

NURAINI Renstra pendidikan 5 tahun

 

 

 

 

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH : EVALUASI PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Prof. Dr.H. Abd. Rahman A. Ghani, M.Pd

Hari : Sabtu

 

PERTEMUAN

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

Kelompok 1

YUNING + AGUNG + BAMBANG + DIAN Standar Kompetensi Lulusan

Kelompok 2

ELVIYANA + UDIN + TIKNO Standar Isi

Kelompok 3

SOBIRIN + SRI + NURAENI Standar Proses

Kelompok 4

ARI + RUDI + YOS + AGUS Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Kelompok 5

NURBAYANTI + SITI NURJANAH + FARAH Standar Sarana dan Prasarana

Kelompok 6

LILIK + JOKO + TRI Standar Pembiayaan Pendidikan

Kelompok 7

EKA + ELEKTRINA + EKO Standar Penilaian Pendidikan

Kelompok 8

WIDYA + GUNAWAN + SOPANDI Standar Pengelolaan Pendidikan

 

 

 

 

 

 

TUGAS INDIVIDU (setelah UTS)

MATA KULIAH : MANAJEMEN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief, MM, M.Pd

Hari : Minggu

No.

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

1

ELEKTRINA STARTEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

2

EKA BAHARI STRESS

3

FARAH ROKHANA PEMASARAN PENDIDIKAN

4

KOESHARIATMO TECHNICAL INFORMATION

5

NURBAYANTI KREATIFITAS DAN INOVASI

6

SOPANDI ORGANIZATIONAL BEHAVIOR IN EDUCATION

7

UDIN KOMARUDIN QUALITY ASSURANCE

8

AGUS PURWANTA KOMUNIKASI INTERPERSONAL

9

LILIK MUSYAROFAH PENGEMBANGAN ORGANISASI SEKOLAH

10

EKO WAHYU WIBOWO KEBIJAKAN PENDIDIKAN

11

TIKNO SUBADI REFORMASI BIROKRASI PENDIDIKAN

12

YUNING SEKOLAH EFEKTIF

13

SOBIRIN RELIGIOSITAS (Pengabdian Terhadap Agama)

14

YOS MANDALA SUPERVISI PENDIDIKAN

15

NURAENI HARAHAP PROFESIONALITAS GURU

16

AGUNG PRAMONO POLITICAL DIMENSION

17

DIAN ANGGA ECONOMIC AND FINANCING

18

BAMBANG KETAHANMALANGAN

19

JOKO KESEHATAN SOCIAL

20

WIDYA DEVI KEPEMIMPINAN VISIONER

21

ELVIYANA KEWIRAUSAHAAN

22

GUNAWAN PAMBUDI PRASARANA DAN SARANA PENDIDIKAN

23

SITI NURJANAH TOTAL QUALITY MANAJEMEN

24

SRI INDRIAWATI LAW AND PROFESIONAL

25

TRI WINDARTI MANAJEMEN KERJA

26

RUDI ROHDIAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

TUGAS KELOMPOK (pertemuan minggu ke-3)

MATA KULIAH : MANAJEMEN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief, MM, M.Pd

Hari : Minggu

 

MINGGU KE -

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

3

YUNING + TRI + ELVIYANA Kepemimpinan dalam Manajemen Pendidikan

4

LILIK  + SOBIRIN Strategi dan Pendidikan

5

EKO + GUNAWAN Pengambilan Keputusan Dalam Pendidikan

6

KOES + AGUS Perencanaan Dalam Pendidikan

7

NURBAYANTI + WIDYA Model dalam manajemen

9

RUDI + YOS Pengembangan SDM Pendidikan

10

UDIN + ELVIYANA Manajemen Berbasis Sekolah (SBM)

11

NURAENI + JOKO Pengawasan dan Supervisi Pendidikan

12

FARAH + SITI NUR Layanan dalam pendidikan

13

DIAN + BAMBANG + SRI INDRI Komunikasi dalam Pendidikan

14

AGUNG + TIKNO Efektifitas kualitas Guru dan tenaga kependidikan

15

EKA + SOPANDI Evaluasi dalam Pendidikan

 

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/pembagian-tugas-individu-kelompok-semester-3/

Mar 28 2013

TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH : PENGEMBANGAN KURIKULUM

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH : PENGEMBANGAN KURIKULUM

Dosen Pengampu : Dr. Hj. Ihsana El Khuluqo, M.Pd

 

PERTEMUAN

NAMA MAHASISWA

MATERI KELOMPOK

1

AGUNG + BAMBANG Kedudukan, konsep dan teori kurikulum

2

EKA + ELEKTRINA Landasan filosofis dan psikologis dalam pengembangan kurikulum

3

FARAH + GUNAWAN Landasan social budaya, perkembangan iptek dalam pengembangan kurikulum

4

KOES + RUDI Macam-macam model konsep kurikulum

5

NURBAYANTI + SITI NURJANAH Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum

6

SOPANDI + TRI Pengembangan kurikulum di Indonesia

7

UDIN + ELVIYANA Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum

8

AGUS + WIDYA Model-model pengembangan kurikulum

9

LILIK + JOKO Evaluasi kurikulum

10

EKO Guru dan pengembangan kurikulum

11

TIKNO Hidden kurikulum

12

YUNING Prinsip dasar pengembangan kurikulum

13

SOBIRIN + SRI Kerangka dasar, struktur dan penyusunan KTSP

14

YOS + DIAN Penerapan kurikulum 2013

15

NURAINI Renstra pendidikan 5 tahun

 

 

 

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/tugas-kelompok-mata-kuliah-pengembangan-kurikulum/

Mar 08 2013

Inginkah Anda Menjadi Orang yang Ikhlas? ( Dari hamba yang dhaif : Shobirin Asyiddah )

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.”
Bagaimana Agar Aku Ikhlas ?
Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah
Banyak Berdoa
Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:
« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”
Menyembunyikan Amal Kebaikan
Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).
Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.”
Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan.
Memandang Rendah Amal Kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”
Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).
Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih )
Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.
Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?
Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.
Ingin Dicintai, Namun Dibenci
Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya “ (HR. Muslim)
Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir).
Dalam sebuah hadits dinyatakan “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.” (HR. Bukhari Muslim)
Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ‘sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ‘semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sehingga sempurnalah segala amal kebaikan)

Permanent link to this article: http://www.map6dki.com/inginkah-anda-menjadi-orang-yang-ikhlas/

Page 2 of 2212345...1020...Last »